abdullohaja@gmail.com

Monday, January 14, 2013

KETERAMPILAN MEMBACA: MEMBACA PEMAHAMAN




Pengertian Membaca Pemahaman Secara Garis Besar

Membaca pemahaman adalah suatu proses untuk mengenali atau mengidentifikasi teks, kemudian mengingat kembali isi teks. Membaca pemahaman juga dapat berarti sebagai suatu kegiatan membuat urutan tentang uraian/menggorganisasi isi teks, bisa mengevaluasi sekaligus dapat merespon apa yang tersurat atau tersirat dalam teks.
Sedangkan pemahaman berhubungan laras dengan kecepatan. Pemahaman atau comprehension, adalah kemampuan membaca untuk mengerti: ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. 

Membaca pemahaman (reading for understanding) yang di maksudkan di sini adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami:
1. standar atau norma-norma sesastra (letery standards)
2. resensi kritis (critical review)
3. drama tulis (printed drama)
4. pola-pola fiksi (patterns of fiction)             

Kata memobilisasi pengetahuan dapat di artikan dengan menciptakan pemahaman pribadi atau sudut pandang. Dari perumpamaan susunan kalimat “memobilisasi pengetahuan” saja bisa menghasilkan sekian model bacaan yang akan menjadi sekian sudut pandang dan sudah jelas akan menjadi bahan keputusan untuk bertindak. Dalam hal ini menciptakan pemahaman adalah bagaimana anda merefleksikan pengetahuan yang sifatnya ‘generally applicable’ di atas menjadi ‘specifically applicable’ dengan setting persoalan mikro: anda dengan wilayah operasi dan konsentrasi. Pemahaman inilah yang akan menikahkan antara apa yang anda ketahui dari materi tangible dan materi intangible yang bekerja di lapangan.                                                                                
Orang sering merasa bahwa pengetahuannya tidak berguna karena tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan padahal yang belum diperoleh adalah pemahaman. Berbahasa pada dasarnya adalah proses interaktif komunikatif yang menekankan pada aspek-aspek bahasa. Kemampuan memahami aspek-aspek tersebut sangat menentukan keberhasilan dalam proses komunikasi. Aspek-aspek bahasa tersebut antara lain keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Secara karakteristik, keempat keterampilan itu berdiri sendiri, namun dalam penggunaan bahasa sebagai proses komunikasi tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan keterpaduan dari beberapa aspek. Salah satu aspek keterampilan berbahas adalah keterampilan membaca. Keterampilan membaca selalu ada dalam setiap tema pembelajaran. Hal tersebut membuktikan pentingnya penguasaan keterampilan membaca. 

Membaca, terutama membaca pemahaman bukanlah sebuah kegiatan yang pasif. Sebenarnya, pada peringkat yang lebih tinggi, membaca itu, bukan sekedar memahami lambang-lambang tertulis, melainkan pula memahami, menerima, menolak, membandingkan dan meyakini pendapat-pendapat yang ada dalam bacaan. Membaca pemahaman inilah yang dibina dan dikembangkan secara bertahap pada sekolah (Tompubolon: 1987). Pembelajaran membaca pemahaman menggunakan teknik skema merupakan salah satu upaya tepat karena dengan teknik skema yang  harus menghubungkan pengalamannya dengan pengalaman yang ada dalam buku teks.                                                                           

Definisi  Membaca Pemahaman Menurut Para Ahli

Webster Collegiate Dictionary menawarkan definisi ini: “kapasitas pemikiran untuk memahami dan mengerti”. Membaca pemahaman, maka, akan menjadi kapasitas untuk menerima dan memahami makna yang disamapaikan oleh teks.
Banyak definisi membaca pemahaman yang disampaikan oleh para ahli. Definisi itu secara umum mempunyai arti yang hampir sama, yaitu memahami informasi secara langsung yang ada dalam teks bacaan itu dan memahami informasi yang tidak secara langsung dalam teks. 

Pendapat-pendapat yang mendukung definisi itu diantaranya adalah:
Rubin (1993: 194) mendefinisikan bahwa membaca pemahaman adalah proses pemikiran yang kompleks untuk membangun sejumlah pengetahuan. Membangun sejumlah pengetahuan itu menurut Nola Banton Smith dalam Rubin (1993:195) bisa berupa kemampuan pemahaman literal, interpretatif, kritis, dan kreatif. Hal itu diperkuat oleh Burns (1996:255) bahwa membaca pemahaman terdiri empat tingkatan, yaitu pemahaman literal (literal comprehension), pemahaman interpretatif (interpretative comprehension), pemahaman kritis  (critical comprehension) dan pemahaman kreatif (creative comprehension).

Beberapa kemampuan yang ada dalam membaca literal, interpretatif, kritis, dan kreatif dapat diuraikan lebih rinci lagi mulai dari definisi sampai dengan aktivitasnya. Penjelasan tentang definisi dan aktivitasnya tersebut, Syafi’ie (1999: 31) mengatakan bahwa pemahaman literal adalah pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau disebutkan penulis dalam teks bacaan. Pemahaman ini diperoleh dengan memamhami arti kata, kalimat dan paragraf dalam konteks bacaan itu seperti apa adanya. Dalam pemahaman literal ini tidak terjadi pendalaman pemahaman terhadap isi inforasi bacaan. Yang terjadi hanya mengenal dengan mengingat apa yang tertulis dalam bacaan. Untuk membangun pemahaman literal, pembaca dapat menggunakan kata tanya apa, siapa, kapan, bagaimana, mengapa.

Membaca interpretatif merupakan kegiatan membaca yang berusaha memahami apa yang dimaksudkan oleh penulis dalam teks bacaan. Kegiatan ini lebih dalam lagi bila dibandingkan dengan membaca literal karena dalam membaca literal pembaca hanya mengenal apa yang tersurat saja, tetapi dalam membaca interpretatif, pembaca ingin juga mengetahui apa yang disampaikan penulis secara tersirat. Menurut Syafi’ie (1999:36) pemahaman interpretatif harus didahului pemahaman literal yang aktivitasnya berupa: menarik kesimpulan, membuat generalisasi, memahami hubungan sebab-akibat, membuat perbandingan-perbandingan, menemukan hubungan baru antara fakta-fakta yang disebutkan dalam bacaan.

Membaca kritis merupakan membaca yang bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu teks bacaan dengan jalan melibatkan diri sebaik-baiknya ke dalam teks bacaan itu. Oleh para ahli membaca kritis ini dipandang sebagai jenis membaca tersendiri sehingga para ahli membuat definisi yang redaksinya berbeda-beda. 

Menurut Burns (1996:278) membaca kritis adalah mengevaluasi materi tertulis, yakni membandingkan gagasan yang tercakup dalam materi dengan standar yang diketahui dan menarik kesimpulan tentang keakuratan, dan kesesuaian. Pembaca kritis harus bisa menjadi pembaca yang aktif, bertanya, meneliti fakta-fakta, dan menggantungkan penilaian/keputusan sampai ia mempertimbangkan semua materi.

Membaca kreatif merupakan tingkatan membaca pemahaman pada level yang paling tinggi. Pembaca dalam level ini harus berpikir kritis dan harus menggunakan imajinasinya. Dalam membaca kreatif, pembaca memanfaatkan hasil membacanya untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan emosionalnya. Kemampuan itu akan bisa memperkaya pengetahuan-pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan ketajaman daya nalarnya sehingga pembaca bisa menghasilkan gagasan-gagasan baru. Proses membaca kreatif ini menurut Syafi’ie (1999:36) dimulai dari memahami bacaan secara literal kemudian menginterpretasikan dan memberikan reaksinya berupa penilaian terhadap apa yang dikatakan penulis, dilanjutkan dengan mengembangkan pemikiran-pemikiran sendiri untuk membentuk gagasan, wawasan, pendekatan dan pola-pola pikiran baru.

Sistem dalam Membaca Pemahaman

Membaca pemahaman berkaitan erat dengan usaha memahami hal-hal penting dari apa yang dibacanya. Yang dimaksud membaca pemahaman atau komprehensi adalah kemampuan membaca untuk mengerti ide pokok, detail penting, dan seluruh pengertian. Pemahaman ini berkaitan erat dengan kemampuan mengingat bahan yang dibacanya. Usaha efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan:

a.     Mengorganisasikan bahan yang dibacanya dalam kaitan yang mudah di pahami
b.     Mengkaitkan fakta yang satu dengana fakta yang lain atau menghubungkannya dengan fakta dan konteks       

Tingkat pemahaman dalam membaca berkaitan pula dengan sistem membaca yang dipakainya. Umumnya orang cenderung langsung membaca teks tanpa mempersiapkan prakondisi sehingga pembacaaan tersebut menjadi tidak efektif.

Ada beberapa sistem membaca, antara lain:
1. SQ3R          : survey-question-read-recite-review
2. SQ4R        : survey-question-read-recite-rite-review
3. POINT        : purpose-overview-interpret-note-test
4. OK4R         : overview-key ideas-read-summarize-test

 Salah satu sistem yang banyak dikenal dan dipakai orang adalah SQ3R. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh Francis P. Robinson pada tahun 1941. SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu:

1.     SURVEI
Survei atau prabaca adalah teknik mengenal bahan sebelum membacanya secara lengkap. Tujuan survei adalah
a.     mempercepat menangkap arti
b.      mendapatkan abastrak
c.      mengetahui ide-ide penting
d.      melihan susunan (organisasi) bahan bacaan
e.      mendapatkan minat perhatian yang seksama terhadap bacaan
f.       memudahkan mengingat lebih banyak dan memahami lebih mudah

 Jenis-jenis survei yang dilakukan di antaranya:
  1. Teknik survei buku
  1. Teknik survei bab
  1. Teknik survei artikel
  1. Teknik survei klipping
 2.     QUESTION
Pada langkah ini kita mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang isi bacaan.
3.     READ
Perlu disadari bahwa membaca merupakan langkah ketiga, bukan langkah pertama.
4.     RECITE/RECALL
Pada tahap ini Anda dapat membuat catatan seperlunya.
5.     REVIEW
Pada tahal ini Anda mencoba mengingat kembali dengan membaca ulang bacaan yang Anda baca.

 Menemukan Ide Pokok Wacana
Memahami suatu teks berarti memahami ide pokok yang hendak disampaikan oleh penulis teks tersebut. Untuk itu fokus pembacaan haruslah diletakkan pada usaha memahami ide pokok penulis. Ide pokok suatu buku dapat dikenali dalam:
a.     ikhtisar umum yang ada di awal buku
b.     ikhtisar bab                                                                                                    
c.      ikhtisar bagian bab
d.     ide pokok paragraf

Kadang-kadang orang terlalu membuang waktu untuk detail sebelum dia menemukan ide pokoknya. Detail adalah fakta atau informasi yang dikemas dalam paragraf untuk membuktikan, menjabarkan, dan memberikan contoh yang mendukung ide pokok. Salah satu cara mengenali detail penting adalah dengan mencari petunjuk-petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, antara lain dengan:
a.     ditulis cetak miring
b.     digaris bawahi
c.     dicetak tebal
d.     dibubuhi angka-angka
e.     ditulis dengan kode huruf (a,b,c,d)

Kata-kata kunci merupakan kata penuntun untuk membantu mengetahui jalan pikiran penulis. Kata kunci antara lain:
a.     ungkapan penekanan
b.     kata yang mengubah arah
c.     kata ilustrasi
d.     kata tambahan
e.     kata simpulan

Pentingnya Membaca Pemahaman

Manusia dikenal sebagai mahkluk multidimensional. Sebagai mahkluk multidimensional, manusia memiliki banyak sebutan. Beberapa diantaranya adalah sebagai mahkluk yang menggunakan simbol, sebagai mahkluk berpikir, sebagai mahkluk politik, dan sebagai mahkluk sosial. Apapun sebutannya, manusia tidak bisa terlepas dari aktivitas berhubungan dengan yang lainnya. Dengan kata lain, manusia tidak bisa hidup sendirian, melainkan dia selalu membutuhkan orang lain. Demikianlah, manusia dalam kehidupannya tidak bisa terlepas dari aktivitas berkomunikasi. Bahasa merupakan salah satu media komunikasi utama yang digunakan oleh manusia.           

Komunikasi yang menggunakan media bahasa ini disebut komunikasi verbal. Sebelum dikenal bahasa tulis, manusia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa lisan. Dengan demikian, kemampuan berbahasa yang mereka miliki terbatas pada berbicara dan mendengarkan saja. Dengan adanya kemajuan peradaban, manusia merasakan adanya keter batasan dalam berkomunikasi secara lisan. Informasi yang tersimpan dalam bahasa lisan akan hilang begitu saja setelah komunikasi lisan selesai. Komunikasi lisan tidak bisa menembus hambatan waktu. Oleh kare na itulah, kemudian manusia menciptakan simbol-simbol tulis untuk menggambarkan bahasa lisannya. Dalam komunikasi tulis, ada dua kemampuan yang terlibat, yaitu menulis dan membaca.

Demkianlah, sampai perkembangan peradaban sekarang, manusia mengenal adanya tindak komunikasi yang meliputi empat kemampuan berbahasa, yaitu berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Berbicara dan mendengarkan termasuk kemampuan berbahasa lisan. Menulis dan membaca merupakan kemampuan berbahasa tulis. Ke empat kemampuan berbahasa ini bersifat integratif yang dapat di istilahkan dengan catur tunggal kemampuan berbahasa. Sejak dikenal bahasa tulis, aktivitas membaca menjadi sangat penting. Kegiatan membaca, utamanya membaca memiliki nilai yang sangat strategi dalam upaya pengembangan diri. Melalui membaca pemahaman ini, orang dapat menggali dan mencari berbagai macam ilmu dan pengetahuan yang tersimpan di dalam buku-buku dan media tulis yang lain. Membaca pemahaman disini dapat di ibaratkan sebagai kunci pembuka gudang ilmu pengetahuan karena melalui pemahaman seseorang terhadap suatu bacaan maka ia akan mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih.

Pentingnya membaca, utamanya membaca pemahaman bagi seseoarang patut kita sadari. Membaca pemahaman masih terus akan dibutuhkan sebagai alat untuk mempelajari berbagai bidang ilmu. Hal ini terutama sangat dirasakan oleh para pelajar. Melalui membaca pemahaman, seseoarang akan terbantu dalam rangka pengembangan kemampuan akademik, keahlian, dan kecerdasan. Dalam kehidupan masyarakat modern yang kompleks, kemampuan seseorang dalam membaca pemahaman sangat diperlukan dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial. Selain itu, membaca pemahaman akan memberikan nilai plus terhadap pembacanya. Dalam hal ini, pembaca akan memperoleh informasi-informasi yang lebih dan beragam.                                
           
Demikianlah betapa pentingnya membaca pemahaman dalam kehidupan kita sehari-hari.Penguasaan informasi melalui membaca pemahaman akan memberikan jalan terang bagi seseorang untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Kualifikasi Membaca Pemahaman
Beberapa tingkatan dalam membaca pemahaman. Hal ini disampaikan oleh Thomas Barret dalam buku taksonomi kemampuan membaca, di antaranya adalah:

1. Pemahaman Literal
Pemahaman literal adalah pemahaman terhadap apa yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks, pemahaman informasi secara eksplisit di dalam teks. Pemahaman literal atau hafiah adalah kemampuan memahami ide-ide yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Pemahaman literal lazim juga disebut dengan pemahaman tersurat. Dalam taksonomi Barret, pemahaman literal merupakan tingkat pemahaman yang paling rendah tetapi penting sebelum menginjak ke tingkat pemahaman selanjutnya.
Dalam pemahaman literal, pembaca dituntut memiliki kemampuan mengenali teks atau recognition yang berupa:
- Karakter tokoh
- Ide
- Urutan
- Perbandingan
- Rincian

Selain itu, pembaca juga dituntut memilki kemampuan mengingat kembali teks. Dalam hal ini ada beberapa indicator:
- Bagaimana
- Apa sebabnya
- Katakanlah
- Sebutkanlah
- Daftarlah

2. Pemahaman Reorganisasi
Pemahaman reorganisasi adalah  kemampuan pemahaman untuk menganalisis, menyintesis, atau mengorganisasikan informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Kemampuan mengorganisasikan kembali meliputi kemampuan mengklasifikasikan, merangkum, mengikhtisarkan, dan menyintesiskan.

3. Pemahaman Inferensial
Pemahaman inferensial adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung dalam teks. Memahami teks secara inferensial berarti memahami apa yang diimpilkasikan oleh informasi-informasi yang dinyatakan secara eksplisit. Burns dan Roe (1980) dan Nuttall menyatakan pemahaman inferensial sebagai pemahaman interpretatif. Hal-hal yang dilakukan dalam pemahaman inferensial:
a)   Menginferensi rincian penguat, yaitu menduga informasi atau fakta-fakta yang mungkin perlu ditambahkan dalam teks.
b)    Menginferensi ide utama, yaitu menyimpulkan ide utama yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam teks.
c)    Menginferensi urutan, yaitu menduga kejadian atau tindakan yang mungkin terjadi dalam urutan peristiwa yang dinyatakan eksplisit dalam teks.
d)    Menginferensi perbandingan, yaitu menduga persamaan dan perbanndingan antara dua hal yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam teks.
e)    Menginferensi hubungan sebab- akibat, yaitu membuat simpulan dalam teks.
f)     Menginferensi karakter pelaku, yaitu menduga atau memprediksi sifat pelaku berdasar teks eksplisit.
g)    Memprediksi hasil atau kelanjutan, yaitu menduga hasil atau kelanjutan dari teks, setelah membaca sebagian teks.
h)   Menafsirkan bahasa figuratif, yaitu menafsirkan makna hafiah dari bahasa kias di dalam teks.

4. Pemahaman Evaluasi
Pemahaman evaluasi adalah kemampuan mengevaluasi materi teks. Pemahaman evaluasi pada dasarnya sama dengan pemahaman membaca kritis. Dalam pemahaman ini, pembaca membandingkan informasi yang ditemukan dalam teks dengan norma-norma tertentu, dan dengan pengetahuaan serta latar belakang pengalaman pembaca sendiri untuk membuat penilaiaan berbagai hal yang berkaitan dengan materi teks.
Pemahaman evaluasi memerlukan kemampuan:
a. Keputusan tentang realitas atau santai
b. Keputusan tentang fakta atau opini (ada dasar yang cukup sebagai dasar penulisan, simpulan, dan tujuan penulisan)
c.  Keputusan tentang kesahihan, sesuai dengan materi sejenis atau sebelumnya
d.  Keputusan tentang ketepatan
e. Keputusan tentang kebenaran dan, apakah sesuai dengan sistem nilai, moral, dan etika yang berlaku.

5. Pemahaman Apresiasi
Pemahaman apresiasi merupakan kemampuan untuk mengungkapkan respon emosional dan estetis terhadap teks sesuai dengan standar pribadi dan standar profesional mengenai, bentuk sastra, gaya, jenis, dan teori sastra. Pemahaman apresiasi melibatkan seluruh dimensi kognitif yang terlibat dalam tingkatan pemahaman sebelumnya, karena apresiasi berkaitan dengan  pesikologi dan estetis terhadap teks (Hafni, 1981). Ada beberapa kemampuan yang diperlukan:
a. Kemampuan merespon teks secara emosional
b. Kemampuan mengidentifikasi diri dengan pelaku dalam teks dan peristiwa yang terjadi
c. Kemampuan mereaksi bahasa pengarang
d. Kemamapuan imagenery, pembaca mengungkapkan kembali apa yang seakan- akan dilihat,  didengar, dicium, dan dirasakan.

Langkah-langkah dalam Membaca Pemahaman

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam membaca pemahaman:
a. membaca teks secara berulang-ulang
b. menuliskan kembali hal-hal yang dianggap penting               
c. membuat kesimpulan tentang isi teks
d. merespon atau mempraktekan isi bacaan, dalam hal ini menyeleksi bacaan.

Aspek-aspek Membaca Pemahaman

1. Aspek Sensori
Proses membaca ini dimulai dengan sensori visual yang diperoleh melalui pengungkapan simbol-simbol grafis dan indra penglihatan. Dari sini anak-anak belajar membedakan secara visual diantara simbol-simbol grafis (huruf atau kata) yang digunakan untuk mempresentasikan bahasa lisan.

2. Aspek Perseptual
Selanjutnya adalah tindakan perceptual, yaitu aktivitasmengenal suatu kata sampai pada maknanya berdasarkan pengalaman yang diperoleh. Pengalaman merupakan aspek penting dalam proses membaca.Karena dengan sering membaca anak-anak memiliki pengalaman yang luas dalam memahami berbagai kosa kata dan konsep.

3. Aspek Berfikir
Dalam aktivitas membaca terdapat proses berfikir untuk dapat memahami bacaan dengan syarat pembaca terlebih dahulu memahami kata-kata dan kalimat yang dihadapinya melalui proses asosiasi dan eksperimental. Kemudian membuat simpulan dengan cara mengaitkan isi preposisi yang terdapat dalam materi bacaan. Agar siswa mampu memahami materi bacaan, maka ia harus mampu berfikir secara sistematis, logis dan kreatif. Sehingga nantinya dapat meningkatkan kemampuan berfikir melalui bahan bacaan yang telah dibaca. Mengenal hubungan antara simbol dengan bunyi bahasa dan makna adalah bagian dari aspek asosiasi dalam membaca.Anak-anak Belajar menghubungkan simbol-simbol grafis dengan bunyi bahasa dan makna. Tanpa kedua kemampuan asosiasi tersebut siswa tidak mungkin dapat memahami sebuah teks.

4. Aspek Afektif
Pada aspek afektif ini merupakan proses membaca yang berkaitan dengan kegiatan memusatkan perhatian, membangkitkan kegemaran membaca (sesuai dengan minatnya), dan menumbuhkan motivasi membaca ketika sedang membaca. Pemusatan perhatian,kesenangan dan motivasi yang tinggi merupakan hal yang diperlukan dalam membaca. Tanpa adanya perhatian yang penuh ketika membaca, maka siswa akan sulit memahami suatu bacaan. Aspek ke sembilan ialah aspek pemberian gagasan. Aspek ini dimulai dari penggunaan sensori dan perceptual dengan latar belakang pengalaman dan tanggapan afektif serta membangun makna teks yang dibaca oleh siswa. Tidak semua makna bisa dibangun berdasarkan pada teks yang dibaca melainkan bisa dari faktor latar belakang pengalaman pembaca.
 
HIDUP ITU MAJU KEDEPAN! BUKAN MUNDUR KE BELAKANG! LUPAKAN YG TELAH BERLALU! JADIKAN IA PATOKAN UNTUK LEBIH BAIK DIMASA DEPAN

No comments:

Post a Comment